Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Israel mengklaim telah menewaskan Kepala Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani.
Selain Larijani, komandan paramiliter Basij, Gholamreza Soleimani, juga disebut ikut tewas dalam operasi tersebut.
Namun hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Iran terkait klaim tersebut.
Dari Jalanan Tehran ke Target Serangan
Beberapa hari sebelum serangan, Larijani masih tampil di ruang publik. Ia terlihat memimpin ribuan warga dalam Quds Day di Tehran, sebuah momentum politik penting di Iran.
Dalam kesempatan itu, Larijani melontarkan kritik keras terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Tak hanya di panggung, ia juga menyampaikan ancaman terbuka melalui media sosial X.
“Memulai perang mudah, tapi tidak bisa dimenangkan dengan beberapa tweet. Kami tidak akan berhenti hingga membuatmu menyesal atas kesalahan besar ini,” tulis Larijani.
Pernyataan tersebut mempertegas posisinya sebagai figur garis keras dalam struktur keamanan Iran. Sebagai kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Larijani dikenal sebagai tokoh yang berperan dalam kebijakan keamanan dan militer negara tersebut.
Serangan dan Dampak Regional
Di tengah meningkatnya ketegangan, serangan yang dikaitkan dengan Iran juga dilaporkan terjadi di kawasan Teluk. Fasilitas energi di Uni Emirat Arab, termasuk terminal minyak di Fujairah, menjadi sasaran.
Reuters melaporkan insiden tersebut menyebabkan gangguan pada aktivitas logistik dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi di kawasan.
Selain itu, menurut laporan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), sebuah kapal tanker di sekitar perairan Fujairah terkena proyektil yang menyebabkan kerusakan ringan tanpa korban jiwa.
Status Masih Klaim
Meski Israel menyatakan operasi berhasil, sejumlah media internasional menegaskan bahwa status Larijani masih belum terverifikasi secara independen.
Situasi ini menempatkan informasi dalam kategori klaim sepihak, yang lazim terjadi dalam fase awal konflik bersenjata.



