Berita Utama

Kuba Tunduk pada Tekanan Trump? Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel Akui Dialog Rahasia di Tengah Krisis Energi

Avatar photo
×

Kuba Tunduk pada Tekanan Trump? Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel Akui Dialog Rahasia di Tengah Krisis Energi

Sebarkan artikel ini
Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel yang kini tengah menjadi sorotan dunia usai mengakui adanya negosiasi rahasia dengan pihak Donald Trump di tengah krisis energi hebat. (Foto: Wikipedia)
Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel yang kini tengah menjadi sorotan dunia usai mengakui adanya negosiasi rahasia dengan pihak Donald Trump di tengah krisis energi hebat. (Foto: Wikipedia)

Benteng komunis di Karibia, Kuba, tampaknya mulai goyah. Presiden Miguel Díaz-Canel akhirnya mengakui secara terbuka bahwa pemerintahannya tengah menjalin komunikasi rahasia dengan pejabat senior pemerintahan Donald Trump, menurut laporan The Guardian pada Jumat (13/03/2026). Pengakuan mengejutkan ini disampaikan di tengah blokade energi yang kian mencekik dan mengancam lumpuhnya pulau tersebut.

Selama tiga bulan terakhir, dilaporkan tidak ada satu tetes pun bahan bakar yang berhasil masuk ke Kuba, buntut dari kebijakan “tekanan maksimal” Washington setelah jatuhnya sekutu utama Kuba, Nicolás Maduro di Venezuela awal tahun ini.

“Pembicaraan ini diarahkan untuk mencari solusi melalui dialog atas perbedaan bilateral yang ada di antara kedua negara,” ungkap Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel dalam pernyataan resmi di hadapan petinggi Partai Komunis, dikutip The Guardian.

Ancaman ‘Takeover’ dan Krisis ‘Jam Nol’

Ketegangan di Havana mencapai titik didih seiring pernyataan provokatif Presiden AS Donald Trump pekan ini. Trump sempat melontarkan gagasan tentang “friendly takeover” atau pengambilalihan bersahabat terhadap Kuba, namun juga memperingatkan secara sinis: “Bisa jadi itu bukan pengambilalihan yang bersahabat.”

Kondisi dalam negeri Kuba semakin memprihatinkan. Warga mulai turun ke jalan melakukan aksi protes “pukul panci” (cacerolazo) akibat pemadaman listrik berkepanjangan. Mahasiswa Universitas Havana bahkan menggelar aksi duduk menuntut solusi atas kelangkaan pangan dan energi yang kini mencapai level “Jam Nol”.

Munculnya ‘Raulito’ dan Diplomasi Pintu Belakang

Sinyal bahwa negosiasi serius terlihat dari kehadiran Raúl Guillermo Rodríguez Castro alias “Raulito” dalam konferensi pers. Cucu tokoh revolusi Raúl Castro ini dilaporkan menjadi sosok kunci yang menemui pejabat AS di berbagai lokasi netral, termasuk pertemuan Caricom di Saint Kitts Februari lalu, sebagaimana dikutip The Guardian.

Analis diplomatik menilai kehadiran keluarga Castro menunjukkan otoritas tertinggi Kuba sedang berupaya mengamankan eksistensi rezim melalui kesepakatan langsung dengan Washington, menghindari jalur formal yang selama ini buntu.

Barter Tahanan Lewat Mediasi Vatikan

Sebagai bentuk “uang muka” diplomasi, pemerintah Kuba mengumumkan akan segera membebaskan 51 tahanan politik melalui mediasi Vatikan, menurut laporan The Guardian. Meski jumlah ini lebih sedikit dibanding era Obama pada 2014, langkah ini dipandang sebagai upaya terakhir Díaz-Canel untuk melunakkan sikap Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang gencar mendorong perubahan rezim (regime change).

Namun, pakar menilai Díaz-Canel melakukan “blunder” dengan membandingkan dialog ini dengan era Obama—sosok yang kebijakannya dibenci Donald Trump. Hingga kini, Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait pengakuan Havana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *