Berita Utama

Gugur di Lebanon, Praka Farizal Dimakamkan di TMP Giripeni

Avatar photo
33
×

Gugur di Lebanon, Praka Farizal Dimakamkan di TMP Giripeni

Sebarkan artikel ini
Videoshot 20260404 075225

Penantian panjang keluarga Praka Farizal Rhomadhon di Kulon Progo akhirnya menemui titik terang. Tiga personel TNI yang bertugas dalam misi UNIFIL, termasuk Farizal, telah dipulangkan secara hormat dari Beirut setelah gugur dalam tugas di wilayah Lebanon Selatan pada akhir Maret lalu.

Setibanya di tanah air, jenazah akan langsung disambut dengan prosesi kenegaraan di VIP Room Bandara Soetta pada Sabtu (4/4/2026) petang sebagai bentuk penghormatan terakhir. Setelah upacara pelepasan militer yang dipimpin langsung oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD), almarhum akan diterbangkan menuju Yogyakarta untuk segera dibawa ke rumah duka di wilayah Lendah.

Sebagai bentuk apresiasi tertinggi atas pengabdiannya, negara memberikan kenaikan pangkat anumerta menjadi Kopral Dua (Kopda). Almarhum juga dipastikan akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giripeni, Wates, pada Minggu (5/4/2026) pagi melalui upacara pemakaman militer.

Sementara itu, kondisi psikologis Fafa Nur Azila, istri almarhum, kini dilaporkan mulai stabil meski kehilangan suami tercinta di usia muda. Dukungan terus mengalir bagi keluarga di tengah penantian jadwal pemulangan jenazah agar almarhum bisa segera dimakamkan secara layak di Indonesia.

Pemerintah Indonesia sendiri tidak tinggal diam dengan mendorong penyelidikan independen di forum internasional. Indonesia secara tegas menolak alasan Israel yang menyalahkan Hezbollah atas insiden tersebut dan mendesak PBB untuk segera membuka investigasi menyeluruh guna memastikan akuntabilitas atas keselamatan prajuritnya.

Tragedi ini menjadi pengingat nyata betapa besarnya risiko yang dihadapi pasukan Indonesia di wilayah konflik. Gugurnya Farizal memicu pertanyaan besar mengenai sejauh mana perlindungan internasional diberikan kepada para penjaga perdamaian yang bertaruh nyawa di bawah bendera PBB.

Kehilangan ini bukan sekadar duka bagi Kulon Progo, melainkan alarm bagi komunitas internasional. Saat seorang prajurit gugur demi perdamaian dunia, dunia berhutang jawaban yang jujur agar tidak ada lagi nyawa yang melayang dalam ketidakpastian prosedur keamanan global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *