Berita Utama

India Dilanda Kelangkaan Elpiji, Bossman Mardigu Ingatkan UKM Indonesia Segera Beralih ke Kompor Listrik

22
Photo : Tangkapan Layar
Photo : Tangkapan Layar

Krisis energi yang melanda India dilaporkan mulai melumpuhkan sektor ekonomi menengah ke bawah. Akibat kelangkaan stok Liquefied Petroleum Gas (LPG) atau Elpiji, sedikitnya 20 persen hotel dan lebih dari separuh pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) di negara tersebut terpaksa menghentikan operasional secara total.

Kondisi ini memicu kekhawatiran adanya dampak domino terhadap ketahanan energi di Indonesia. Pengusaha sekaligus pengamat ekonomi, Mardigu Wowiek atau yang akrab disapa Bossman, memberikan peringatan keras terkait potensi gangguan pasokan energi dalam negeri akibat ketegangan geopolitik global.

“Ini bukan ingin menakut-nakuti, hal ini akan terjadi di Indonesia juga. Kita tahu kementerian SDM, Presiden, berusaha keras agar Elpiji itu ada, tapi kita harus melihat fakta atau reality,” ujar Mardigu dalam unggahan videonya di media sosial.

Ancaman Konflik Global

Mardigu menyoroti serangan terhadap pangkalan produksi gas di Dubai sebagai faktor utama yang mengancam stabilitas energi. Menurutnya, Indonesia perlu menyiapkan skenario terburuk jika ketidakpastian global ini berlanjut dalam waktu lama.

“Apa yang terjadi kalau perang ini lebih dari 100 hari ke depan? Kita tahu pangkalan Elpiji atau pangkalan gas produksi di Dubai itu dibom oleh Iran, sehingga bisa terimbas dalam jangka panjang ke Indonesia juga,” tuturnya memperingatkan.

Solusi Mandiri: Listrik dan LNG

Guna mengantisipasi kelumpuhan ekonomi di sektor UKM, Mardigu menyarankan para pelaku usaha untuk tidak lagi bergantung sepenuhnya pada gas impor. Ia mendorong adanya migrasi ke energi listrik yang sumber dayanya dinilai jauh lebih melimpah dan stabil di dalam negeri.

“Anda harus siap-siap sekarang dan cari yang murah atau bikin yang murah (kompor listrik). Listrik pasti tidak akan shutdown karena kita bisa bergantung pada batu bara,” kata Mardigu menjelaskan keunggulan komparatif energi listrik domestik.

Selain itu, ia juga mendesak penguatan hilirisasi Liquefied Natural Gas (LNG). Sebagai salah satu negara pengekspor LNG terbesar, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk mengolah sumber daya tersebut menjadi gas masak guna menjamin kedaulatan energi nasional.

“Kita ini pengekspor LNG, bukan Elpiji ya. LNG ini harus segera bisa diproses untuk menjadi cooking gas juga. Hal itu semua adalah opportunity untuk kita menjadi negara berdaulat lagi,” tegasnya.

Mentalitas Bangsa Berdaulat

Menutup pernyataannya, Mardigu mengajak masyarakat untuk tetap kreatif dan tidak hanya mengandalkan keluhan kepada pemerintah. Ia mengingatkan kembali identitas Indonesia sebagai bangsa yang memiliki sejarah panjang dalam kedaulatan ekonomi dan teknologi.

“Kita tidak boleh komplain ke pemerintah. Kita ini adalah bangsa yang besar, yang kreatif, bangsa yang sudah berdaulat lama. Jadi kita tidak boleh mengeluh,” pungkas Mardigu.

Ancaman kelangkaan energi ini menjadi momentum bagi pelaku usaha di tanah air untuk mulai beradaptasi dengan teknologi energi alternatif sebelum krisis energi benar-benar berdampak luas pada sektor produksi.

Exit mobile version