Relawan pendukung Presiden dan Wakil Presiden terpilih yang tergabung dalam Tim 8 Prabowo–Gibran mengecam aksi penyiraman air keras terhadap aktivis HAM Andrie Yunus. Mereka meminta aparat penegak hukum segera mengusut kasus tersebut secara serius.
Sekretaris Jenderal Tim 8 Prabowo–Gibran Akhrom Saleh mengatakan tindakan kekerasan terhadap aktivis tidak dapat dibenarkan dalam negara demokrasi.
“Agar tidak mencoreng nama baik presiden dan wakil presiden, Pak Prabowo dan Mas Gibran,” kata Akhrom dalam keterangannya, Sabtu (14/3/2026).
Menurutnya, setiap warga negara memiliki hak atas perlindungan pribadi serta rasa aman. Hak tersebut telah dijamin dalam Undang-Undang Dasar 1945, termasuk kebebasan untuk menyampaikan pendapat tanpa rasa takut.
“Apa pun bentuk perbedaan pendapat tidak boleh direspons dengan kekerasan,” ujarnya.
Ia juga meminta aparat kepolisian memberikan perlindungan kepada Andrie Yunus serta para aktivis lain yang memperjuangkan hak asasi manusia agar terhindar dari ancaman serangan susulan.
Disiram Air Keras Sepulang Rekaman Podcast
Sebelumnya, Andrie Yunus disiram air keras saat berada di Jalan Salemba I–Talang, Jakarta Pusat, pada Kamis malam (12/3/2026).
Dua orang tak dikenal yang mengendarai sepeda motor diduga menjadi pelaku penyerangan. Mereka datang dari arah berlawanan sebelum menyiramkan cairan berbahaya ke tubuh korban.
Koordinator KontraS Dimas Bagus Arya mengatakan cairan tersebut mengenai bagian depan tubuh Andrie.
Sebelum kejadian, Andrie diketahui baru saja menyelesaikan perekaman siniar bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) sekitar pukul 23.00 WIB.
Setelah disiram, Andrie sempat ambruk di jalan sambil berteriak kesakitan.
Alami Luka Bakar 24 Persen
Cairan kimia yang bersifat korosif itu mengenai bagian kanan tubuh korban, termasuk mata, wajah, dada, dan tangan. Sebagian pakaian korban juga dilaporkan meleleh akibat paparan zat tersebut.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan Andrie Yunus mengalami luka bakar serius sekitar 24 persen pada tubuhnya.
Saat ini ia masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta dan telah menjalani operasi bedah mata akibat luka yang dialaminya.
