Daerah

Panas! Hubungan Bupati Lebak Hasbi Jayabaya dan Wakilnya Memanas Usai Sentil Status Mantan Napi

52
file 0000000018ec720b97f53b1fb0111869

Acara Halal Bihalal yang seharusnya penuh suasana saling memaafkan justru berubah jadi tontonan tegang saat hubungan Bupati Lebak Hasbi Jayabaya dan wakilnya memanas di Pendopo Kabupaten Lebak, Senin, 30 Maret 2026.

Hasbi secara terang-terangan menyindir masa lalu Amir Hamzah sebagai mantan narapidana di depan ratusan ASN, yang seketika memicu aksi walk out dan membuat suasana gedung pemerintahan mendadak mencekam.

Pemicu Utama Kenapa Hubungan Bupati Lebak Hasbi Jayabaya dan Wakilnya Memanas

Ketegangan ini awalnya dipicu oleh urusan kewenangan. Dalam arahannya, Hasbi Jayabaya menegaskan agar Wakil Bupati tidak melampaui tugas pokok dan fungsinya (tupoksi), terutama dalam koordinasi dengan kepala dinas.

Namun, situasi memuncak saat Hasbi mulai menyerang sisi personal sang wakil. Ia menyebut bahwa Amir Hamzah seharusnya tahu diri karena bisa menjabat meski memiliki rekam jejak hukum di masa lalu.

“Uyuhan mantan napi jadi wakil bupati geh bersyukur,” cetus Hasbi menggunakan dialek lokal.

Kalimat ini secara harfiah menekankan bahwa Amir Hamzah seharusnya bersyukur masih bisa menjabat meskipun pernah menjadi narapidana.

Reaksi Amir Hamzah yang Pilih Keluar Ruangan

Mendengar pernyataan tersebut, Amir Hamzah tidak tinggal diam. Ia sempat berdiri untuk mencoba mengingatkan Bupati agar menjaga etika di forum resmi.

Namun, demi menghindari keributan yang lebih luas, ia memilih meninggalkan lokasi acara. Langkah ini membuat suasana di dalam ruangan berubah tegang dan membuat para ASN yang hadir merasa tidak nyaman.

“Saya sangat menyesalkan sikap Bupati yang tidak memiliki sopan santun politik. Forum Halal Bihalal yang seharusnya menjadi momen saling memaafkan justru dijadikan tempat untuk menghina,” tegas Amir Hamzah.

Kritik Etika dan Marwah Daerah dari Aktivis

Insiden ini memantik reaksi dari aktivis senior Eroy Bavik Habibi. Mengutip dari Teropongpost.id, ia menegaskan bahwa etika pemimpin mencerminkan marwah daerah di ruang publik.

Menurutnya, konflik internal seharusnya diselesaikan secara tertutup, bukan dipertontonkan dalam forum silaturahmi. Ia juga menilai peristiwa ini memberi contoh kurang baik bagi tata kelola pemerintahan di Kabupaten Lebak.

Eroy mengimbau kedua pimpinan daerah untuk menahan ego pribadi demi menjaga kondusivitas wilayah, terutama setelah momentum Lebaran.

Sampai saat ini, polemik ucapan “mantan napi” masih ramai diperbincangkan di media sosial. Publik menanti langkah kedua pimpinan daerah untuk meredakan ketegangan dan kembali fokus pada kinerja pemerintahan.

Exit mobile version