Teknologi

Rentetan Insiden Taksi Listrik Green SM, Gagal Sistem atau Pengemudi Belum ‘Konek’ Teknologi?

0
1000832556

Rentetan insiden kecelakaan yang melibatkan taksi listrik Green SM di berbagai titik ibu kota sepanjang tahun 2025 memicu evaluasi besar-besaran. Mulai dari tabrakan dengan pembatas jalan di kawasan Roxy hingga kecelakaan di perlintasan kereta api, unit-unit elektrik ini terus menjadi sorotan publik.

Data lapangan mencatat rapor merah operasional Green SM yang cukup intens. Dimulai pada 26 Februari 2025 saat satu unit menabrak penjual nasi goreng, disusul tabrakan dengan Bus Transjakarta pada 6 Maret 2025. Kondisi semakin serius dengan adanya dua insiden di perlintasan kereta api, masing-masing pada 10 Oktober dan 31 Desember 2025.

Divo Gimbal, Praktisi sekaligus Founder Elektrik Rakyat Indonesia (ERI), menilai fenomena ini sebagai bukti adanya jarak antara kecanggihan teknologi kendaraan listrik dengan kesiapan pengemudi. Menurutnya, karakter mobil listrik yang memiliki torsi instan membutuhkan adaptasi khusus.

“Mobil listrik itu karakternya beda total dengan mobil konvensional. Sekali injak pedal gas, tenaganya langsung keluar semua. Kalau pengemudi masih pakai insting mobil bensin, risikonya mereka akan kaget dan kehilangan kendali,” ujar Divo.

Divo juga menyoroti penggunaan sistem bantuan pengemudi atau ADAS yang seringkali justru membingungkan jika tidak dipahami secara mendalam. Setir yang melakukan koreksi otomatis lewat komputer bisa memicu kepanikan pengemudi, terutama saat menghadapi kondisi jalan ekstrem atau hambatan mendadak seperti yang terjadi di jalur Roxy.

“Banyak yang terjebak kepercayaan diri berlebihan (overconfidence) pada fitur otomatis. Padahal, kontrol penuh tetap berada di tangan manusia. Kurangnya edukasi membuat pengemudi tidak siap saat sistem bereaksi terhadap lingkungan jalanan kita,” tambahnya.

Melalui gerakan ERI, Divo mendorong adanya standarisasi nasional untuk setiap unit EV, mulai dari dinamo hingga sistem kontrol elektroniknya. Standarisasi ini dianggap sebagai kunci utama agar transisi kendaraan listrik di Indonesia berjalan aman dan konsisten.

“Jangan cuma jualan unit. Edukasi itu nomor satu. Mobil listrik itu basisnya software, jadi cara bawanya pun harus pakai pemahaman baru,” tegas Divo mengakhiri penjelasannya.

Exit mobile version