Perkumpulan Kepala Sekolah Swasta (PKSS) Kota Tangerang Selatan mengapresiasi keputusan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Tangerang Selatan yang kembali memperbolehkan sekolah melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) mulai Kamis.
Sebelumnya, sekolah di wilayah Tangerang Selatan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama dua hari sebagai langkah antisipasi menyusul paparan debu vulkanik akibat aktivitas erupsi Anak Krakatau.
Ketua PKSS Kota Tangerang Selatan, Eko Pranoto, menilai keputusan kembali melaksanakan PTM merupakan langkah yang tepat. Namun, ia mengingatkan agar sekolah tetap memperhatikan aspek keamanan dan kesehatan peserta didik maupun tenaga pendidik.
“Kami sangat mengapresiasi keputusan Dindikbud Tangerang Selatan. Setelah dua hari menerapkan PJJ sebagai langkah antisipasi, mulai Kamis sekolah diberikan kesempatan kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan tetap memperhatikan prosedur keamanan dan kesehatan,” ujar Eko.

MENGAPA INI PENTING ?
- Sekolah di Tangerang Selatan sebelumnya menerapkan PJJ selama dua hari.
- PJJ dilakukan sebagai langkah antisipasi menyusul paparan debu vulkanik akibat aktivitas erupsi Anak Krakatau.
- PTM kembali diperbolehkan mulai Kamis.
- PKSS Tangsel meminta sekolah tetap memperhatikan keamanan dan kesehatan warga sekolah.
Menurut Eko, kondisi Tangerang Selatan relatif cukup aman dan memungkinkan kegiatan belajar mengajar kembali dilakukan secara langsung.
Ia menilai keberadaan sekolah memiliki peran penting dalam memastikan proses pendidikan tetap berjalan sekaligus memberikan pengawasan secara langsung terhadap peserta didik.
“Kalau melihat kondisi di Tangerang Selatan, relatif cukup aman untuk pembelajaran tatap muka. Tentunya bukan berarti kita mengabaikan kewaspadaan. Prosedur kesehatan tetap harus dijalankan dan sekolah harus siap melakukan penyesuaian jika kondisi kembali berubah,” katanya.
Eko mengatakan PTM masih menjadi metode pembelajaran yang efektif dalam banyak aspek. Interaksi langsung antara guru dan peserta didik dinilai memudahkan guru mengetahui perkembangan pemahaman materi, perilaku, maupun kondisi siswa.
“Pembelajaran tatap muka lebih efektif karena guru bisa berinteraksi langsung dengan siswa. Pengawasan juga lebih maksimal. Guru bisa melihat apakah siswa memahami materi, apakah ada kendala, termasuk kondisi mereka selama berada di sekolah,” jelasnya.
Menurut dia, sekolah tidak hanya menjadi tempat peserta didik menerima materi pelajaran, tetapi juga ruang untuk membangun interaksi sosial, kedisiplinan, karakter, serta keterampilan komunikasi.
Karena itu, PTM tetap dibutuhkan ketika kondisi memungkinkan. Meski demikian, Eko meminta sekolah tidak mengurangi kewaspadaan setelah pembelajaran tatap muka kembali diberlakukan.
Sekolah, kata dia, perlu tetap memastikan kebersihan lingkungan, memperhatikan kondisi udara, serta mengingatkan peserta didik untuk menjaga kesehatan.
Koordinasi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah juga dinilai penting untuk mengantisipasi apabila terjadi perubahan kondisi.
“Kita tentu ingin kegiatan belajar kembali normal, tetapi keselamatan dan kesehatan warga sekolah tetap nomor satu. Jadi PTM berjalan, tetapi kewaspadaan juga harus berjalan,” tegasnya.
Eko turut mengapresiasi langkah Dindikbud Tangsel yang sebelumnya menerapkan PJJ selama dua hari. Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan bentuk kehati-hatian pemerintah daerah dan sekolah dalam merespons kondisi yang berpotensi memengaruhi aktivitas pendidikan.
“Jadi tidak ada istilah sekolah mengabaikan kondisi. Dua hari PJJ sudah menjadi bagian dari langkah antisipasi. Ketika kondisi dinilai memungkinkan untuk kembali PTM, kita jalankan dengan tetap mengikuti arahan dan prosedur yang ada,” ujarnya.
PKSS, lanjut Eko, mendorong seluruh sekolah swasta di Tangerang Selatan untuk mengikuti ketentuan Dindikbud serta terus berkoordinasi dengan orang tua peserta didik.
Ia berharap kondisi lingkungan segera kembali normal sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung secara optimal tanpa mengesampingkan aspek kesehatan dan keselamatan.
“Harapan kami tentu semuanya kembali normal. Anak-anak bisa belajar dengan nyaman, guru bisa mengajar dengan maksimal, dan orang tua juga merasa tenang. Prinsipnya, pendidikan harus tetap berjalan, tetapi kesehatan dan keselamatan tetap menjadi prioritas,” pungkas Eko.

BEE-der Berpikir…
“Kembalinya PTM bukan berarti kewaspadaan berakhir. Pendidikan tetap berjalan, sementara kesehatan dan keselamatan warga sekolah menjadi prioritas.”




