Lonjakan harga energi global kian tak terbendung. Harga minyak mentah dunia jenis Brent kini telah menembus level US$102,22 per barel, melesat jauh meninggalkan asumsi makro ICP dalam APBN 2026 yang dipatok sebesar US$80 per barel.
Selisih tajam yang mencapai US$22 per barel ini menjadi alarm keras bagi stabilitas harga BBM nasional. Jika tren kenaikan ini terus bertahan, beban subsidi energi diprediksi membengkak triliunan rupiah dan risiko penyesuaian harga di SPBU menjadi sulit dihindari.
Menjawab ancaman tersebut, Divo, pemilik sekaligus founder Orang Senang Garage, menawarkan solusi yang jauh lebih masuk akal ketimbang harus kredit motor listrik baru yang harganya selangit. Caranya, sulap motor lamamu yang sudah rongsok jadi bertenaga listrik.
“Harga minyak dunia sudah tembus US$102 per barel, ini risiko besar buat pengguna bensin karena ketergantungan pada energi fosil makin mahal. Konversi listrik adalah jawaban paling efisien. Motor lama yang sudah tidak optimal bisa segar lagi dan yang pasti tidak akan pusing lagi mikirin fluktuasi harga minyak dunia,” tegas Divo dalam kegiatan edukasi konversi listrik baru-baru ini.
Gak Perlu Ganti Oli Tarikan Jadi Enteng
Prosesnya simpel tapi revolusioner. Mesin bensin lama dicopot total, diganti dengan motor penggerak listrik dan baterai. Hasilnya, motor tua rasa futuristik tanpa harus takut dompet jebol setiap ada pengumuman kenaikan harga BBM akibat lonjakan pasar global.
Bukan cuma soal irit bensin, pemilik motor bisa langsung mencoret pengeluaran rutin untuk beli oli mesin atau servis karburator yang ribet.
“Ini namanya upgrade teknologi. Motor jadi punya tarikan atau torsi instan, suara senyap, dan lupakan pusing mikirin harga bensin yang makin tidak masuk akal mengikuti standar internasional,” tambahnya.
Daripada Jadi Besi Tua Mending Dikonversi
Divo menekankan bahwa motor lama punya nilai lebih jika disentuh teknologi listrik. Dibanding dijual murah atau jadi rongsokan karena biaya servis mesin yang mahal, biaya konversi diklaim jauh lebih terukur ketimbang harus membeli unit EV (Electric Vehicle) pabrikan.
Gak cuma soal bisnis sendiri, Orang Senang Garage juga punya misi besar membangun jaringan bengkel lokal. Tujuannya agar mekanik-mekanik di daerah juga kecipratan rezeki dari tren kendaraan listrik ini.
“Kalau ini jalan masif, ini bisa jadi lapangan kerja baru buat bengkel-bengkel kecil di seluruh Indonesia,” jelas Divo lagi.
Butuh Aturan Jelas
Meski idenya keren, Divo tidak menampik kalau urusan regulasi dan standarisasi masih jadi tantangan besar. Ia berharap pemerintah segera membuat aturan yang jelas dan transparan, terutama soal biaya sertifikasi dan keamanan teknis bagi bengkel konversi.
“Standarisasi itu wajib. Supaya warga merasa aman, tidak was-was, dan harganya bisa makin terjangkau buat semua orang,” tutupnya.











