Eskalasi konflik antara Iran dan Israel mulai berdampak serius pada stabilitas ekonomi global. Tidak hanya mengancam keamanan wilayah, ketegangan ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia secara drastis, yang berisiko menyeret kawasan Asia ke dalam krisis energi berkepanjangan.
Hingga hari ini (27/3), harga minyak jenis Brent (kontrak Juni ’26) dilaporkan telah menembus level US$ 102,22 per barel, atau melonjak sekitar 5,10% dalam waktu singkat. Lonjakan ini dipicu kekhawatiran pasar atas potensi blokade di Selat Hormuz sebagai jalur utama pasokan energi dunia.
Di India, kepanikan pasar sudah mulai terlihat dengan adanya aksi borong BBM oleh warga di berbagai SPBU. Sementara itu, Filipina secara resmi telah menetapkan Status Darurat Energi guna mengamankan sisa stok nasional mereka.
Indonesia Masih Bertahan di Tengah Badai Harga
Di tengah tren kenaikan harga di negara tetangga dan status darurat di Filipina, Indonesia terpantau masih mempertahankan harga domestik.
Hingga akhir Maret 2026, harga BBM di SPBU seluruh Indonesia belum mengalami perubahan. Di wilayah Jakarta, Pertalite tetap dipatok Rp 10.000 per liter, sedangkan Pertamax (RON 92) masih bertahan di harga Rp 12.300.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa saat ini pemerintah belum mengambil kebijakan untuk menaikkan harga BBM subsidi.
Pemerintah terus mengupayakan berbagai skema fiskal agar beban subsidi tetap terukur tanpa harus membebani masyarakat, meskipun tekanan pasar global akibat konflik Timur Tengah semakin berat.
Komparasi Regional: Malaysia Mulai Batasi Subsidi
Kontras harga di tingkat regional terlihat sangat tajam karena mayoritas negara mulai melepas harga ke mekanisme pasar.
Malaysia baru saja mengumumkan kebijakan drastis yang berlaku per 1 April 2026, yaitu pemangkasan kuota subsidi dengan membatasi jatah warga hanya 200 liter per bulan untuk menjaga ketahanan anggaran mereka.
Negara lain bahkan mencatatkan angka yang jauh lebih tinggi. Di Singapura, harga bensin sudah menembus kisaran Rp 27.000 hingga Rp 40.000 per liter. Filipina dan Tiongkok berada di level Rp 21.000 per liter, disusul Thailand dan Vietnam di angka Rp 18.000 hingga Rp 19.500 per liter. Sementara di Hong Kong dan kawasan Eropa, harga bensin telah menyentuh angka Rp 38.000 sampai Rp 45.000 per liter.
Tekanan APBN dan Risiko Penyesuaian Harga April
Meski saat ini harga masih stabil, beban APBN 2026 dipastikan kian berat. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemerintah sedang melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan harga minyak mentah dunia.
Langkah ini sangat penting untuk menekan potensi kenaikan harga barang (inflasi) yang dipicu oleh krisis energi dunia. Pemerintah kini fokus memastikan subsidi BBM benar-benar tepat sasaran, sehingga beban ekonomi tidak langsung menghantam daya beli masyarakat luas.
Sebagai catatan, asumsi harga minyak di APBN 2026 dipatok pada kisaran US$ 70–80 per barel, jauh di bawah realitas pasar saat ini yang mencapai US$ 102.
Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi ketahanan energi nasional. Jika ketegangan di Timur Tengah tidak mereda, potensi pembengkakan subsidi energi dalam APBN 2026 menjadi sulit dihindari.
