Muhammad Rafif Arsya Maulidi, siswa kelas XI SMK NU Miftahul Falah Kudus, mengirim surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto di Kudus pada Minggu, 5 April 2026. Ia secara sadar menyatakan menolak jatah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi dirinya sendiri.
Berdasarkan unggahan akun Instagram pribadinya @arsya_graph, anggaran makan siang tersebut diminta dialihkan menjadi tambahan tunjangan guru. Rafif menegaskan bahwa guru adalah orang tua kedua sekaligus sosok yang paling dihormati setelah orang tua kandung, termasuk ustadz dan kiai pembimbing akhlak.

Anak seorang buruh ini menilai kesejahteraan tenaga pendidik di sekolahnya belum layak secara ekonomi meski telah mengabdi penuh dedikasi. Peran besar guru sebagai pendidik ilmu dan akhlak menjadi alasan utama mengapa kesejahteraan mereka harus diprioritaskan.
Rafif mengalkulasi total dana jatah makannya mencapai Rp6.750.000. Angka tersebut merupakan hasil akumulasi biaya makan Rp15.000 per hari selama sisa 18 bulan masa sekolahnya di tingkat SMK.
Dana tersebut diminta diserahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah untuk menambah pendapatan para pengajar. Aksi ini bukan bentuk perlawanan terhadap program pemerintah, melainkan wujud nyata kepedulian murid terhadap nasib pahlawan tanpa tanda jasa.
Melalui langkah ini, Rafif berharap rekan sesama pelajar mulai menyadari pentingnya kesejahteraan tenaga pendidik di lingkungan masing-masing. Aspirasi dari bawah ini diharapkan menjadi bahan evaluasi pemerintah dalam menentukan arah kebijakan pendidikan nasional ke depan.


