Teknologi

Budget 20 Juta, Pilih Motor Listrik Pabrikan atau Konversi? Bos Orang Senang Garage Bongkar Performa ‘Bumi dan Langit’

46
img 20260323 054621568561192364738247

Tren kendaraan listrik (EV) di Indonesia kini memasuki babak baru. Dengan budget di angka Rp20 jutaan, masyarakat dihadapkan pada pilihan krusial: Membeli unit pabrikan yang sudah jadi atau melakukan konversi pada motor bensin lama?

Divo, pemilik bengkel spesialis motor listrik Orang Senang Garage, mengungkap fakta lapangan yang jarang disadari calon pengguna. Menurut praktisi konversi ini, dengan nominal uang yang sama, hasil akhirnya sangat kontras terutama pada sektor performa.

Tenaga ‘Mainan’ vs Performa Jalan Raya

Divo menjelaskan bahwa mayoritas motor listrik pabrikan di kelas Rp20 jutaan dirancang untuk penggunaan ringan demi menjaga efisiensi baterai dan standar keamanan massal.

“Pabrikan di kelas ini umumnya dibatasi motor power 800–2000 watt dengan top speed mentok di kisaran 45–60 km/jam. Cukup untuk mobilitas santai, tapi sering ‘ngos-ngosan’ saat harus melibas tanjakan atau menyalip di jalan raya,” ungkap Divo saat ditemui di bengkelnya.

Bandingkan dengan motor hasil konversi. Di tangan mekanik Orang Senang Garage, budget Rp20 juta bisa menyematkan motor power hingga 5000 watt dengan kecepatan menembus 100 km/jam. Artinya, dengan uang yang sama, tenaga yang didapat bisa dua kali lipat lebih besar dibanding unit baru di kelasnya.

Fleksibilitas Tanpa ‘Sandera’ Vendor Baterai

Masalah klasik motor listrik pabrikan adalah sistem “tertutup”. Jika baterai rusak atau ingin meningkatkan kapasitas, pengguna wajib bergantung pada satu vendor merek saja dengan harga suku cadang yang seringkali tidak kompetitif.

Di jalur konversi, Divo menawarkan ekosistem terbuka. Pengguna memegang kendali penuh atas kapasitas baterai yang bisa di-custom sesuai kebutuhan jarak tempuh harian (Ah). Selain itu, sparepart motor konversi cenderung lebih universal, sehingga perawatan jangka panjang tidak harus bergantung pada satu merek tertentu.

Investasi Rangka yang Sudah ‘Badak’

Satu poin krusial yang sering luput dari pengamatan adalah kualitas rangka. Motor bensin (ICE) yang sudah beredar di Indonesia selama puluhan tahun sudah teruji durabilitasnya di berbagai medan jalanan lokal.

“Banyak motor listrik murah kelas entry-level yang rangkanya terasa ringkih. Kalau konversi, kita menggunakan sasis motor lama yang memang sudah ‘badak’ dan kaki-kakinya jauh lebih kokoh,” tegas bos Orang Senang Garage tersebut.

Langkah konversi ini pun kini telah memiliki payung hukum yang kuat. Pemerintah telah mempermudah proses perubahan STNK dan BPKB menjadi plat biru melalui jaringan bengkel konversi yang tersertifikasi.

Exit mobile version