Dunia motor listrik konversi di tanah air kini ibarat “hutan rimba” tanpa aturan. Konsumen seringkali disuguhi harga yang tidak masuk akal hingga klaim performa yang meleset jauh dari realita. Kondisi ini membuat masyarakat ragu dan skeptis untuk beralih ke kendaraan listrik.
Divo Gimbal, pemilik Orang Senang Garage, menyebut ketidakjelasan ini sebagai penghambat utama industri. Sebagai solusinya, ia mendorong standarisasi melalui ERI (Elektrik Rakyat Indonesia) agar setiap motor konversi punya “KTP” atau identitas performa yang jelas dan jujur bagi masyarakat.
Transparansi Harga Tanpa Angka ‘Titipan’
Divo menekankan bahwa dengan standar ERI, tidak ada lagi ruang bagi oknum untuk memainkan harga “ngaco”. Penentuan harga akan menjadi transparan berdasarkan kapasitas power. Nantinya, kelas 2kW akan memiliki rentang harga baku yang terukur, disusul kelas 3kW dan seterusnya. Konsumen tidak lagi membeli “kucing dalam karung” saat melakukan konversi.
Klasifikasi Power Layaknya Motor Bensin
Logikanya sederhana: jika motor bensin punya pakem 110cc atau 150cc sebagai acuan performa, motor listrik harus memiliki klasifikasi serupa. ERI mendorong standarisasi mulai dari 2kW, 3kW, hingga 5kW. Dengan pakem ini, pembeli langsung paham posisi produk dan tenaga yang akan mereka dapatkan sejak awal, tanpa pusing dengan istilah teknis yang rumit.
‘KTP’ Performa untuk Harga Jual Kembali yang Pasti
Salah satu momok besar pemilik motor konversi adalah nilai jual kembali (resale value) yang sering terjun bebas. Melalui standarisasi ERI, unit kendaraan seolah memiliki “KTP” atau identitas industri yang jelas. Motor tidak lagi dianggap sebagai rakitan asal-asalan, melainkan aset yang memiliki nilai pasar stabil karena kualitas komponennya sudah terverifikasi secara nasional.
Ekosistem Nasional Dari Bengkel untuk Rakyat
Standarisasi memungkinkan jaringan bengkel mitra ERI di seluruh Indonesia menggunakan spesifikasi yang seragam. Hal ini mempermudah distribusi suku cadang dan memastikan kualitas garansi yang sama di setiap titik. ERI diposisikan sebagai fondasi industri motor listrik rakyat dengan pembagian kelas yang terukur dari 2kW untuk harian hingga 5kW untuk performa tinggi.
“Kalau motor bensin punya 110cc sebagai standar rakyat, maka motor listrik juga harus punya 2kW sebagai standar awal,” tegas Divo.
Langkah berani ini diharapkan membawa motor listrik bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan solusi nyata yang jujur bagi mobilitas rakyat Indonesia. Dengan semangat “Motor Lama, Rasa Masa Depan”, ERI siap menjadi garda terdepan standarisasi elektrik nasional yang jujur dan bertenaga.
