Ketika kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berkembang semakin cepat, pertanyaan tentang masa depan manusia dan dunia kerja ikut mengemuka. Apakah pekerjaan manusia akan tergantikan? Kemampuan apa yang tetap dibutuhkan? Dan apakah setiap orang harus segera menguasai teknologi agar tidak tertinggal?
Bagi Aranggi Soemardjan, pertanyaan tersebut tidak semata-mata berbicara tentang kecanggihan teknologi. Jauh sebelum AI menjadi bagian dari percakapan sehari-hari, ia telah membawa satu gagasan: teknologi seharusnya membantu manusia menjadi lebih berdaya.
Gagasan tersebut kemudian berkembang melalui Clevio, sebuah inisiatif yang sejak 2013 membawa misi mengungkit potensi cerdik manusia demi kebaikan bersama.
Bukan Sekadar Mengajarkan Teknologi
Clevio dibangun dengan empat prinsip, yaitu Clever, Leverage, Human-Centric, dan Greater-Good. Melalui prinsip tersebut, berbagai inovasi dikembangkan di bidang pendidikan, perdagangan, rekrutmen, pertanian, hingga penyediaan tenaga kerja dengan memanfaatkan teknologi informasi dan kecerdasan buatan.
Bagi Aranggi, persoalan yang muncul dalam kehidupan bukan hanya sesuatu yang harus dikeluhkan. Persoalan juga dapat menjadi titik awal lahirnya sebuah inovasi.
Salah satu contohnya adalah Clevio Innovator Camp. Program inovasi digital ini kini diajarkan melalui kegiatan ekstrakurikuler di berbagai sekolah, baik secara daring maupun tatap muka.
Program tersebut berawal dari keinginan Aranggi membantu anak-anaknya dan teman-teman di lingkungan tempat tinggalnya. Anak-anak yang gemar bermain game dan tertarik pada pemrograman diarahkan untuk mengubah kegemaran tersebut menjadi proses belajar membuat game.
Namun, pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan membuat permainan. Game yang dibuat juga diarahkan agar memberikan manfaat positif bagi pembuatnya maupun lingkungan sekitar.
Prosesnya dilakukan dalam kelompok seperti sebuah tim inti perusahaan rintisan. Anak-anak belajar berbagi peran, berkolaborasi, menyelesaikan masalah, hingga mempresentasikan hasil karya. Game yang mereka buat kemudian tidak hanya dimainkan sendiri, tetapi juga dipamerkan, dijajakan, dan dilombakan secara daring maupun di ruang publik.
Tujuannya bukan sekadar membuat anak menguasai teknologi informatika. Mereka juga belajar berinovasi, berkolaborasi, berpresentasi, berkompetisi, serta membangun kemampuan hidup abad ke-21.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi menjadi pintu masuk. Sementara kemampuan yang dibangun lebih luas, mulai dari cara berpikir, kreativitas, kerja sama, komunikasi, hingga kepercayaan diri.

MENGAPA INI PENTING?
- Clevio berdiri: 2013
- Prinsip Clevio: Clever, Leverage, Human-Centric, Greater-Good
- Clevio Innovator Camp: program inovasi digital untuk pembelajaran.
- Bidang inovasi: pendidikan, perdagangan, rekrutmen, pertanian, dan penyediaan tenaga kerja.
- Teknologi yang digunakan: teknologi informasi dan kecerdasan buatan.
Teknologi yang Berangkat dari Persoalan Manusia
Semangat tersebut kemudian berkembang ke berbagai bidang kehidupan.
Untuk membantu petani, misalnya, dikembangkan Clevio Agriana, penyuluh tani berbasis AI yang dapat digunakan melalui WhatsApp dalam berbagai bahasa. Sistem tersebut dirancang untuk membantu petani merencanakan budidaya, mencari solusi atas persoalan tanaman, menghemat anggaran, meningkatkan hasil panen, serta mengurangi risiko kerugian akibat gagal panen.
Aranggi juga mengembangkan TOKYO8.id yang memanfaatkan bioteknologi dari Jepang untuk mendukung petani. Inisiatif tersebut diarahkan agar desa dapat memproduksi pupuk hayati secara mandiri dengan memanfaatkan mikrobioma tanah dan tanaman yang lebih ramah lingkungan.
Sementara bagi pengusaha mikro yang belum memiliki cukup modal untuk merekrut tenaga profesional, Clevio menciptakan Arthur, singkatan dari “Arsitek Pengatur”. Arthur dirancang sebagai Chief AI Officer yang dapat membantu menyiapkan staf berbasis AI untuk pekerjaan seperti layanan pelanggan, administrasi, dan akuntansi.
Bagi para profesional, Clevio menghadirkan Clevio AI Pro. Program tersebut tidak hanya mengajarkan penggunaan aplikasi AI, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, inovatif, dan kreatif melalui seperangkat AI Thinking Skills.
Pendekatan tersebut bertumpu pada satu prinsip yang disampaikan Aranggi:
“Jawaban terbaik dimulai dari pertanyaan terbaik.”
Prinsip yang sama diterapkan kepada para coach Clevio. Mereka tidak diarahkan untuk sekadar memberikan jawaban kepada peserta, melainkan mengajukan pertanyaan yang membantu peserta menemukan jawaban dan membangun jalan pikirnya sendiri.
Berani Mengubah Arah
Perjalanan Aranggi membangun Clevio juga tidak terlepas dari keputusan besar dalam perjalanan kariernya.
Sebelumnya, ia telah memiliki karier sebagai direktur regional Asia Tenggara pada sebuah perusahaan teknologi industri asal Jerman. Di tengah kemapanan tersebut, muncul pertanyaan mengenai karya dan manfaat yang ingin ia tinggalkan bagi orang lain.
Pertanyaan itu membawanya kembali kepada keinginan lama untuk membangun sesuatu yang tidak hanya memiliki nilai bisnis, tetapi juga memberikan dampak.
Ia kemudian memilih mengarahkan perjalanan hidupnya untuk membantu manusia mengenali potensinya serta menciptakan dampak positif bagi lingkungan di sekitarnya.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa kesiapan menghadapi masa depan tidak selalu berbicara tentang mempertahankan jalan yang sudah dianggap aman. Ada kalanya seseorang perlu kembali melihat apa yang dianggap penting, kemudian memilih membangun jalan baru.
AI dan Kecerdasan Manusia
Kini, ketika AI berkembang semakin cepat, pengalaman Aranggi kembali bersinggungan dengan pertanyaan tentang masa depan manusia.
AI dapat membantu manusia mencari informasi, mengembangkan gagasan, menyusun rencana, dan menyelesaikan pekerjaan secara lebih efisien. Namun, teknologi tetap membutuhkan manusia yang mampu menentukan tujuan dan menggunakannya secara bertanggung jawab.
Karena itu, tantangan anak muda tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan AI. Rasa ingin tahu, daya pikir, kreativitas, kemampuan bekerja bersama, pertimbangan etis, dan keberanian mengambil keputusan juga menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan.
Teknologi dapat mempercepat proses. Namun, manusia tetap menentukan untuk apa teknologi tersebut digunakan dan manfaat apa yang ingin dihasilkan.
Mengajak Anak Muda Menjadi Pencipta
Dalam Coffee Talk – Future Ready, Aranggi Soemardjan hadir sebagai Guide untuk menemani percakapan mengenai AI, teknologi, dunia kerja, dan masa depan.
Ia membawa pengalaman dalam membantu anak-anak, profesional, pelaku usaha, dan masyarakat bergerak dari sekadar pengguna menjadi pencipta.
Dari pengguna menjadi pencipta.
Dari penerima menjadi pemberi.
Dari penemu masalah menjadi penemu solusi.
Semangat tersebut sejalan dengan Coffee Talk – Future Ready yang dirancang sebagai ruang percakapan. Acara ini tidak dimaksudkan untuk menentukan satu jalan yang paling benar bagi semua anak muda, melainkan membuka ruang agar peserta dapat bertanya, bertukar pandangan, dan menemukan langkah yang sesuai dengan proses masing-masing.
Di tengah teknologi yang terus berubah, kemampuan untuk terus belajar, bekerja bersama, dan menggunakan teknologi untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat menjadi bagian dari percakapan tersebut.
Coffee Talk – Future Ready akan diselenggarakan pada Rabu, 30 September 2026, pukul 15.30–18.00 WIB, di Sunzet Nusantara Café & Dining, Leuwinanggung, Depok.
Kegiatan yang diprakarsai PT BEEang Cipta Raya ini menjadi langkah awal dari Creative Series – Road to Indonesia Youth Creativaganza 2027.

BEE-der Berpikir…
“Aranggi Soemardjan membawa perspektif bahwa kesiapan menghadapi masa depan tidak berhenti pada kemampuan menggunakan teknologi.”













