Pendidikan

IPRE 2026, Yusup Ngadimin dan Uthoppia Soroti Tantangan Talenta Indonesia Menembus Pasar Global

×

IPRE 2026, Yusup Ngadimin dan Uthoppia Soroti Tantangan Talenta Indonesia Menembus Pasar Global

Sebarkan artikel ini
Yusup Ngadimin, Founder & CEO Uthoppia House, saat menjadi pembicara dalam forum IPRE 2026. Photo : Beritaraya.id
Yusup Ngadimin, Founder & CEO Uthoppia House, saat menjadi pembicara dalam forum IPRE 2026. Photo : Beritaraya.id

Ketika perusahaan mencari tenaga kerja, ijazah dan latar belakang pendidikan masih menjadi salah satu ukuran yang paling mudah dilihat. Persoalannya, tidak semua kemampuan seseorang bisa ditemukan dari dua hal tersebut.

Hal itu menjadi salah satu sorotan Yusup Ngadimin, Founder & CEO Uthoppia House, saat menjadi pembicara dalam forum Indonesia Postgraduate and Research Expo (IPRE) 2026.

Yusup melihat persoalan tersebut bukan hanya terjadi pada pencari kerja. Menurut dia, perusahaan juga perlu memahami bagaimana cara membaca kemampuan seseorang sebelum menentukan apakah orang tersebut sesuai dengan pekerjaan yang dibutuhkan.

“Kadang-kadang orang yang hiring itu tidak diajarkan bagaimana cara menilai talent dengan benar,” ujar Yusup.

Ketika kemampuan membaca talenta terbatas, kata dia, ukuran yang paling mudah kembali pada hal-hal yang terlihat di atas kertas.

“Lulusan dari mana, sekolah mana, nilainya berapa,” ujarnya.

Padahal, seseorang bisa saja memiliki kemampuan yang tidak tercermin dari nilai akademiknya. Yusup mengalaminya sendiri.

Ia mengaku bukan siswa yang menonjol ketika bersekolah. Kesempatan bekerja di Singapura dan Malaysia justru membuatnya bertemu dengan lingkungan yang berbeda dan membuka pandangan mengenai kemampuan yang dimilikinya.

“Kalau kita berada di tempat yang tepat, support-nya tepat, ada orang yang mengerti bagaimana menilai kita, kita bisa membangun komunitas yang support,” katanya.

Bagi Yusup, cara melihat seseorang kemudian tidak cukup berhenti pada sertifikat.

“Bukan hanya sertifikat, tetapi ability, personality, dan cara dia bekerja,” ujarnya.

MENGAPA INI PENTING?

  • Yusup Ngadimin merupakan Founder & CEO Uthoppia House.
  • Yusup menjadi pembicara dalam forum IPRE 2026.
  • Ia membahas cara melihat potensi seseorang di luar ukuran pendidikan formal.
  • Uthoppia House mengembangkan Mimicue.ai untuk eksplorasi dan pemetaan jalur karier berbasis AI.

Ketika Jalur Karier Tidak Sesuai Buku

Yusup juga membawa contoh lain. Ada orang yang tidak cocok dengan sistem pendidikan formal, tetapi justru menemukan kekuatannya setelah masuk ke dunia kerja.

Ia bercerita tentang seorang kenalan yang tidak menyelesaikan sekolah menengah. Bukan karena tidak memiliki kemampuan, tetapi karena merasa tidak cocok dengan pola belajar yang menuntut kemampuan menghafal.

Orang tersebut kemudian bekerja di bidang marketing dan media sosial. Kemampuan berbicaranya menjadi modal yang justru berkembang setelah ia masuk ke dunia kerja.

Cerita seperti itu, menurut Yusup, menunjukkan bahwa jalur seseorang tidak selalu berjalan lurus dari sekolah, kuliah, lalu bekerja sesuai bidang pendidikan.

Ada pula orang yang sudah bekerja selama 10 atau 20 tahun tetapi masih ingin mencari arah baru. Bahkan, mereka yang sudah pensiun bisa saja masih ingin bekerja dengan pola yang lebih ringan dan fleksibel.

Karena itu, ia melihat pilihan pekerjaan tidak semestinya hanya berkutat pada jenis pekerjaan yang sudah umum dikenal.

“Banyak kesempatan yang kita tidak tahu,” katanya.

Pendekatan tersebut kemudian menjadi bagian dari pengembangan Mimicue.ai oleh Uthoppia House. Platform itu menggunakan AI untuk membantu pengguna mengeksplorasi kemungkinan jalur karier dan melihat pilihan pekerjaan yang mungkin sesuai dengan profil mereka.

Bagi Yusup, yang penting bukan sekadar mendapatkan rekomendasi pekerjaan. Orang juga perlu mengetahui bagaimana sebuah pilihan karier bisa ditempuh.

“Kadang kita tidak tahu bagaimana cara menjadi sukses. Kita cuma perlu tahu di mana jalannya,” ujarnya.

Membawa Talenta Indonesia Keluar

Persoalan membaca talenta kemudian berkaitan dengan hal lain yang menjadi perhatian Yusup: bagaimana talenta Indonesia dikenal di luar negeri.

Setelah tinggal dan bekerja di Singapura, ia melihat perusahaan di sana cukup sering mencari tenaga kerja dari negara seperti India, Vietnam, dan Filipina.

Sementara itu, menurut Yusup, Indonesia memiliki banyak orang dengan kemampuan yang sebenarnya bisa diperkenalkan ke pasar global.

“Salah satu misi saya adalah memperkenalkan talent Indonesia di luar,” katanya.

Itulah salah satu alasan ia melihat Indonesia sebagai pasar yang penting bagi Uthoppia. Bukan hanya untuk orang yang baru mulai mencari pekerjaan, tetapi juga mereka yang sudah memiliki pengalaman dan ingin menemukan peluang lain.

Pembahasan Yusup di IPRE 2026 akhirnya kembali pada satu persoalan sederhana: bagaimana seseorang bisa dilihat bukan hanya dari apa yang tertulis di ijazahnya, tetapi juga dari kemampuan yang benar-benar dimilikinya.

Tinggalkan Balasan