Pendidikan

IPRE 2026 Dorong Hilirisasi Riset dan Kolaborasi Perguruan Tinggi Menuju Indonesia Emas 2045

×

IPRE 2026 Dorong Hilirisasi Riset dan Kolaborasi Perguruan Tinggi Menuju Indonesia Emas 2045

Sebarkan artikel ini
filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; captureOrientation: 0; brp_mask:0; brp_del_th:null; brp_del_sen:null; delta:null; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 8;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 36;

Indonesia Postgraduate and Research Expo (IPRE) 2026 resmi dibuka di Kartika Expo, Balai Kartini, Jakarta, dengan membawa agenda penguatan ekosistem pendidikan pascasarjana dan riset nasional. Pembukaan IPRE 2026 menempatkan hilirisasi riset, kolaborasi perguruan tinggi, serta keterhubungan dengan dunia industri sebagai bagian penting dalam pengembangan pendidikan tinggi menuju Indonesia Emas 2045.

Ketua Pelaksana IPRE 2026 sekaligus CEO Mataer Digital, Dini Fallah, S.Mat., B.A., dalam laporan pembukaan menyampaikan kesiapan penyelenggaraan IPRE 2026 sebagai pameran yang memetakan sekaligus memperkuat ekosistem pascasarjana dan riset di Indonesia.

Dalam sesi sambutan, Rektor Universitas Andalas (UNAND), Dr. Efa Yonnedi, S.E., MPPM., B.Act., menyoroti pentingnya membawa hasil riset perguruan tinggi hingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan dunia industri.

Salah satu contoh yang disampaikan adalah pemanfaatan gambir. Indonesia disebut menguasai sekitar 80 persen ekspor gambir dunia, sementara UNAND mengembangkan hasil riset tersebut menjadi tinta organik untuk kebutuhan pemilu yang produksinya disebut telah mencapai hingga 1 juta unit.

Efa juga menekankan pentingnya komersialisasi hasil inovasi perguruan tinggi. Menurutnya, sekitar 35 produk inovasi UNAND telah masuk ke dalam e-Katalog LKPP, sehingga hasil riset memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke dalam ekosistem pengadaan dan pasar.

MENGAPA INI PENTING?

  • IPRE 2026 digelar di Kartika Expo, Balai Kartini, Jakarta.
  • Fokus IPRE 2026 mencakup pendidikan pascasarjana dan riset.
  • UNAND mencontohkan hilirisasi riset gambir menjadi tinta organik.
  • Sekitar 35 produk inovasi UNAND disebut telah masuk e-Katalog LKPP.
  • LLDIKTI Wilayah III membentuk empat konsorsium riset.
  • Fokus konsorsium meliputi mitigasi bencana, pengelolaan sampah, Tuberkulosis, dan keamanan siber.

Tantangan Perguruan Tinggi Swasta

Perspektif lain disampaikan Pengurus APTISI Pusat, Prof. Dr. Ir. Suyanto, M.Sc., yang menyoroti dinamika perguruan tinggi swasta (PTS), khususnya dalam mengembangkan strategi rekrutmen mahasiswa jenjang pascasarjana S2 dan S3.

Selain persoalan penerimaan mahasiswa, ia mengingatkan perguruan tinggi mengenai kedisiplinan pelaporan PDDikti serta percepatan akreditasi menuju predikat Unggul.

Kualifikasi sumber daya manusia juga menjadi perhatian. Dosen yang mengajar pada jenjang S2 harus memenuhi kualifikasi akademik yang dipersyaratkan, termasuk kualifikasi doktoral. Kolaborasi antara PTS dan PTN dinilai penting untuk memperkuat kapasitas pendidikan tinggi sekaligus mendukung peningkatan Indeks Pembangunan Manusia menuju Indonesia Emas 2045.

LLDIKTI III Dorong Sharing Laboratory dan Riset Kolaboratif

Kepala LLDIKTI Wilayah III, Dr. Henri Togar Hasiholan, M.Si., mengapresiasi penyelenggaraan IPRE 2026 sebagai ajang yang memberikan ruang bagi perguruan tinggi swasta untuk memperlihatkan kualitas program pascasarjana dan hasil risetnya secara lebih terbuka.

Ia juga menyoroti kebutuhan peningkatan kualifikasi akademik dosen PTS melalui studi S3. Dalam konteks tersebut, sinergi antara PTN dan PTS perlu diperluas, termasuk melalui pembukaan akses fasilitas laboratorium atau sharing laboratory agar fasilitas yang tersedia dapat dimanfaatkan secara lebih luas untuk kegiatan riset.

Dalam arah pengembangan riset, LLDIKTI Wilayah III juga mengumumkan empat konsorsium riset yang difokuskan pada isu mitigasi bencana, pengelolaan sampah, penanggulangan tuberculosis (TB), serta keamanan siber.

Keempat bidang tersebut diarahkan untuk menjadi ruang kolaborasi riset lintas perguruan tinggi dan sektor. Skema joint research didorong agar penelitian tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi dapat menghasilkan kerja sama yang lebih luas.

Henri juga mengarahkan agar penyelenggaraan IPRE pada 2027 semakin melibatkan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Keterlibatan industri diharapkan dapat mempertemukan hasil riset dan inovasi perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Gagasan tersebut dirangkum dalam filosofi yang disampaikan dalam pembukaan IPRE 2026, yakni “Inovasi Jadi Penggerak, Hilirisasi Jadi Jalan.”

Dengan demikian, IPRE 2026 tidak hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan program pascasarjana dan hasil penelitian, tetapi juga menjadi titik temu antara perguruan tinggi, peneliti, inovator, dan calon mitra industri dalam membangun ekosistem riset yang lebih terhubung.

Tinggalkan Balasan