Ndaru Dwi Rahayu: Tari Tradisi Membantu Membentuk Karakter Anak

Seni tari tradisi dapat menjadi sarana bagi anak untuk mengenal kebudayaan, membangun kepercayaan diri, dan belajar mengekspresikan emosi secara positif. Proses latihan juga memberi kesempatan kepada anak untuk mengembangkan kedisiplinan dan tanggung jawab.
Ndaru Dwi Rahayu, pembimbing sanggar tari di SD Quantum Inti Indonesia, menjelaskan bahwa kegiatan tari tradisi tidak hanya berorientasi pada keterampilan menari, tetapi juga proses pembentukan karakter anak.
“Dengan mengikuti lomba tari tradisi seperti ini, ilmu pengetahuan budaya anak-anak meningkat, kepercayaan diri terbangun, dan karakter diri mereka terbentuk. Menari juga menjadi sarana bagi anak untuk merilis emosi dan perasaan mereka secara positif,” kata Ndaru.
Belajar Disiplin dan Tanggung Jawab melalui Tari
Dalam proses mempelajari tari, anak-anak tidak hanya dituntut menguasai gerakan. Mereka juga perlu mengikuti arahan pembimbing, menghafal urutan koreografi, menjaga ketepatan gerakan, dan menyesuaikan diri dengan anggota kelompok.
Proses latihan tersebut memberi kesempatan bagi anak untuk membiasakan diri mengikuti aturan, menyelesaikan tanggung jawab, dan bekerja sama. Nilai-nilai ini berkembang melalui latihan yang berkelanjutan, bukan semata-mata dari hasil penampilan di atas panggung.
Menurut Ndaru, pembinaan karakter melalui seni di sekolah mencakup kedisiplinan, kepercayaan diri, dan rasa tanggung jawab. Karena itu, perkembangan sikap anak selama berlatih juga perlu mendapat perhatian.
Ruang untuk Mengekspresikan Emosi
Selain menjadi sarana belajar budaya, seni tari memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan ekspresi melalui gerakan dan irama. Aktivitas ini dapat menjadi kesempatan untuk menyalurkan energi dan menunjukkan perasaan melalui bahasa tubuh.
Pengalaman tampil di depan penonton juga memberi kesempatan kepada anak untuk berlatih menghadapi situasi di luar rutinitas sehari-hari. Dengan pendampingan yang sesuai, pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari proses belajar dan membangun keberanian.
Meski demikian, setiap anak memiliki kebutuhan dan perkembangan yang berbeda. Proses pembelajaran perlu disesuaikan dengan kemampuan anak serta berlangsung dalam lingkungan yang mendukung.
Dukungan Orang Tua dan Sekolah
Ndaru menekankan bahwa konsistensi latihan perlu disertai dukungan orang tua dan lingkungan sekolah. Potensi anak membutuhkan kesempatan untuk berkembang, termasuk melalui pendampingan yang berkelanjutan.
“Kunci utamanya adalah konsistensi dan dukungan penuh dari orang tua serta lingkungan sekolah,” ujarnya.
Pembimbing seni turut berperan dalam mengenalkan teknik tari, menjelaskan nilai budaya, dan membangun kebiasaan positif selama latihan. Kerja sama antara keluarga, sekolah, dan sanggar seni dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung kreativitas anak.
Mengenalkan Budaya Sejak Dini
Pembelajaran tari tradisi juga membuka kesempatan bagi anak untuk mengenal keberagaman budaya Indonesia. Melalui kegiatan ini, mereka dapat mempelajari karakteristik gerak dan unsur budaya yang melekat pada setiap tarian.
Pengenalan tersebut menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan apresiasi terhadap kebudayaan sejak dini. Anak tidak hanya belajar menampilkan gerakan, tetapi juga memperoleh pengalaman mengenal dan menghargai warisan budaya.
Bagi Ndaru, proses pembinaan seni membutuhkan konsistensi serta dukungan lingkungan. Dengan kesempatan belajar dan berekspresi yang memadai, tari tradisi dapat menjadi bagian dari pendidikan yang mendukung kreativitas, kedisiplinan, kepercayaan diri, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap budaya bangsa.


Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda