Surat terbuka Onesimus O Puling, warga asal Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menyoroti kekerasan di Papua viral di media sosial. Unggahan di akun Facebook Onesimus O Puling tersebut mendapat perhatian luas dan memicu beragam respons warganet.
Dalam surat tersebut, Onesimus menyampaikan duka atas meninggalnya tiga orang yang disebutnya sedang menjalankan tugas negara, yakni Willi Mbuik, Aprida Rapi, dan drh. Alfonsius Albinus Mehan.
Bagi Onesimus, kabar tersebut bukan sekadar berita tentang kehilangan. Ia melihatnya sebagai duka yang juga dirasakan masyarakat NTT karena salah satu korban, Willi Mbuik, disebut berasal dari Rote, NTT.
Seruan dari Seorang Anak NTT
Onesimus mengaku menulis surat tersebut bukan sebagai orang yang mengenal kelompok bersenjata di Papua secara pribadi dan bukan pula sebagai orang Papua. Ia menulis sebagai seorang anak NTT yang merasa kehilangan setelah mendengar kabar mengenai tiga korban tersebut.
Ia mempertanyakan alasan kekerasan harus dilakukan terhadap orang-orang yang sedang menjalankan pekerjaan dan pengabdian.
“Kalau ada ketidakadilan, lawanlah ketidakadilan. Kalau ada persoalan politik, perjuangkanlah melalui cara-cara politik.” tulisnya
Menurut Onesimus, persoalan dan luka sejarah semestinya diselesaikan melalui pembicaraan dan keadilan, bukan dengan menjadikan manusia yang sedang bekerja sebagai sasaran kekerasan.
Ia juga mengingatkan bahwa Papua membutuhkan orang-orang yang bekerja di berbagai bidang, mulai dari guru, tenaga kesehatan, petugas pertanian, dokter hewan, ASN, hingga pekerja lainnya.
Mereka, menurut pesan yang disampaikan Onesimus, datang untuk menjalankan tugas dan mengabdi kepada masyarakat.
“Jangan Lagi Ada Willi Berikutnya” tambahnya
Pesan tersebut kemudian mengarah pada satu seruan yang menjadi bagian penting dari surat Onesimus: jangan sampai ada lagi korban seperti Willi.
Ia mengajak pihak-pihak yang terlibat dalam konflik di Papua untuk melihat dampak kekerasan terhadap keluarga korban.
Setiap kematian, menurutnya, meninggalkan luka bagi orang-orang yang ditinggalkan, terutama keluarga yang kehilangan anak, saudara, atau orang yang mereka cintai.
Onesimus juga menilai kekerasan tidak semestinya menjadi jalan untuk memperjuangkan masa depan Papua. Pendidikan, kesehatan, pekerjaan, serta kehidupan masyarakat yang aman membutuhkan ruang yang jauh dari kekerasan.
“Cukuplah darah yang tertumpah. Jangan lagi ada Willi berikutnya.” jelas Onesimus

MENGAPA INI PENTING?
- Surat terbuka ditulis oleh Onesimus O Puling, warga asal Nusa Tenggara Timur.
- Dalam suratnya, Onesimus menyebut Willi Mbuik, Aprida Rapi, dan drh. Alfonsius Albinus Mehan sebagai tiga orang yang kehilangan nyawa akibat penembakan.
- Willi Mbuik disebut berusia 24 tahun dan berasal dari Rote, NTT.
- Surat tersebut berisi seruan penghentian kekerasan, perlindungan terhadap warga yang bekerja, serta penyelesaian persoalan melalui dialog dan keadilan.
- Unggahan surat terbuka tersebut viral di media sosial dan memunculkan beragam tanggapan publik.
Respons Warganet
Respons terhadap surat tersebut datang dari berbagai latar belakang. Sejumlah warganet menyampaikan duka untuk para korban dan keluarga yang ditinggalkan, sementara lainnya menyoroti pentingnya keamanan bagi tenaga kesehatan, guru, pekerja, dan masyarakat yang datang ke Papua untuk menjalankan tugas.
Ada pula warganet dari Papua yang menyampaikan keprihatinan atas kekerasan dan berharap masyarakat dapat hidup berdampingan tanpa saling membenci. Komentar lainnya menekankan pentingnya pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, serta penyelesaian persoalan melalui cara-cara damai.
Beragam respons tersebut menunjukkan bahwa surat Onesimus tidak hanya menjadi ungkapan duka dari warga NTT, tetapi juga membuka percakapan publik mengenai kemanusiaan, keamanan, pengabdian, dan harapan terhadap perdamaian di Papua.
Seruan untuk Mengakhiri Kekerasan
Di bagian akhir surat, Onesimus kembali mengajak semua pihak memilih dialog ketika menghadapi perbedaan dan mencari jalan keluar ketika terdapat persoalan.
Ia mengaku dirinya hanya seorang anak NTT yang jauh dari Papua. Namun, ketika ada anak NTT yang kehilangan nyawa di tanah Papua, ia merasa ikut terluka.
Pesan tersebut kemudian ditutup dengan penghormatan kepada Willi Mbuik, Aprida Rapi, dan drh. Alfonsius Albinus Mehan.
Onesimus berharap Tuhan menerima pengabdian mereka dan memberikan kekuatan kepada keluarga yang ditinggalkan.
“Dari saya, seorang anak Nusa Tenggara Timur, untuk Papua dan untuk Indonesia,” tulisnya.

BEE-der Berpikir…
“Ketika kekerasan merenggut nyawa, yang tersisa bukan kemenangan, melainkan keluarga yang kehilangan. Papua dan Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang untuk berdialog, bukan lebih banyak air mata.”













